Daddy’s little girl

Apa yang yang paling menyedihkan di dunia ini?, apa itu tidak dapat bertemu dengan orang yang di cintai?, atau ditinggal pergi tanpa kembali?, keduanya bermakna sama yaitu kehilangan. Jika saja ada suatu pilihan untuk tak memiliki maka mungkin kehilangan tak akan lagi terlahir, tetapi merasakan kehilangan lebih baik dari hidup tanpa kenangan. Sejatinyayang paling menyedihkan ialah orang yang tak mampu melepas kesedihan Darinya dan terus tenggelam didalam-Nya.

Namun apa yang akan dilakukan oleh anak yang bahkan tak mampu berbicaramenggenggam tangan yang mendingin dan kulit yang perlahan membiru. Tangannya tak henti memegang wajah yang telah terbujur kaku di depannya. Jika saja kain itu dibuka, tampaklah jemari kecilnya memegang pipi yang perlahan mengendur. Sesekali ia rapatkan ujung tangannya ke leher yang telah menampakkan urat birunya.

Begitu tak lagi ia rasakan denyut nadi hatinya kembali hancur, beberapa kali ia tepuk pipi itu dengan pelan. Siapa yang akan percaya lelaki kuat, cerdas, dan tampan ini telah tiada. Siapa lagi yang hanya dengan mengamati angin mampu membawa kapal besar menyeberangi samudera luas?, siapa yang akan membuat para wanita merasa sesak didada hanya dengan satu tatapan yang bahkan tak berarti apa-apa. Lea tersenyum ayahnya memang terlalu hebat dan kelewatan tampan.

“ayah… Wanita disana masih terpukau dengan wajahmu, jika matamu terbuka kutebak ia tak akan bisa berdiri dengan benar”

Lea membisikkan kata itu, ia tau ayahnya selalu mencintai keindahan, dan semua itu sudah sepenuhnya dihabiskan untuk ibu yang duduk disana menatap wajah tampan ayah, bahkan dengan pucat urat birunya.

Bagaimana mungkin ia tak terpukau?, bahkan alam tak mampu melukai wajah indah yang diberikan Tuhan untuknya. Setelah tenggelam di lautan luas berenang bersama ikan yang tak lagi terhitung jumlahnya. Lea penasaran apa yang disaksikan ayahnya sampai begitu rela ia serahkan apa yang ada di dunianya. Apakah itu perkebunan Bunga yang luas?, atau mengarungi lautan selamanya?.

“ibu…ayah masih terlalu indah untuk mengurai bersama mawar biru yang ibu berikan, kenapa tidak di bangunkan?, ibu kan nyonya rumah. Dia pasti bangun”

Lea menggerutu, tapi ia tak sebodoh itu, bagaimana mungkin bibir mengkerut itu akan kembali tersenyum?, bagaimana mungkin kulit membiru itu kembali segar dan nyaman untuk di peluk?. Melihat ibunya tersenyum Lea tau bahwa tingkah bodoh seperti ini sejatinya bukan hal buruk.

“ibu… Bukankah ayah terlalu pemalas dia sudah tidur sepanjang hari, kenapa ibu tidak menarik rambutnya?

Ibunya tersenyum, Lea tau itu adalah obat dari segala kesedihannya saat ini. Pemakaman berlangsung dengan baik, tapi masih sangat Lea sayangkan wajah ibunya yang kehilangan separuh hatinya.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

Begitu hari pertama setelah pemakaman suasana rumah masih begitu ramai, sanak saudara dari jauh berdatangan melihat keadaan keluarga Henhard . Dahulu semua itu akan disambut ayah dengan tangan terbuka lalu dijamu dengan ibunya selayaknya nyonya rumah. Tapi tibalah hari ini dimana disambut dan dijamu dengan sang nyonya rumah saja.

Telah menjadi sebuah tradisi hal yang akan membuat keluarga berkumpul dari ujung hingga keinti darah ialah pernikahan dan kematian. Hingga nampaklah semua wajah yang bahkan tak Lea ketahui menyatakan diri sebagai keluarga dan sanak saudara.

Apa yang akan terjadi setelahnya?, begitu hari berlanjut suasana rumah semakin sepi dan sepinya semakin sunyi pula. Jika dahulu ayah mengharuskan kami untuk makan bersama sekalipun tanpanyaKini untuk bertegur sapa pun kian terpikirkan komunikasi yang selayaknya apa yang harus dilakukan.

Ketika hari terus berlanjut, mode pakaian semakin berubah, dan teknologi kian merekah. Ibu yang dahulunya terpaku datar di hadapan wajah ayah di ruang tamu kembali didunia sosialnya. Wajah ibu yang kembali cerah sungguh membahagiakan untuk Lea. Ia tak lagi harus mengucapkan pertanyaan konyol yang membuatnya tersenyum.

Lantas bagaimana dengan tumbuh kembang seorang anak yang selalu berusaha menghibur ibunya itu. Dunianya menjadi dingin. Hal yang paling menakutkan adalah melihat tatapan berduka dari orang orang sekitarnya seolah ia telah kehilangan dunianya. Memang benar ia telah kehilangan. Tetapi hanya dengan tatapan itu tak akan membuatnya kembali ataupun menghapus luka ya tentang lautan.

Bagaimana dengan keadaan gadis kecil yang bernama Leinia Von Henhard itu saat ini?.

Lea berdiri menatap lautan, sejak lama ia memberanikan diri untuk hadir di tempat ini. Jika itu adalah dirinya yang dulu, akan ia hadiri setiap sudut kapal yang dibawa ayahnya datang untuk mendengar bunyi sandar kapal layar yang besar itu. Tapi kini cahaya biru lautan saja terasa begitu menyesakkan.

“laut itu menenangkan jika tak ada hati yang tenggelam didalam-Nya

Hari ini ibu kembali seperti biasa tanpa peduli hanya sekedar bertatapan, seolah berkomunikasi melalui kalbu. Lea tak lagi tau harus bersikap sedemikian apa. Hatinya juga kesepian. Lantas bagaimana ia bisa mengkomunikasikannya?, ayah belum mengajarinya.

Lea tertegun cahaya biru yang telah berusaha ia tatap dengan keberanian penuh dendam kini seolah menghipnotisnya.

“Apa yang begitu menarik di dalam sana hingga ayah dengan kesungguhan hati meninggalkan wanita manis yang hangat di rumah itu”

Laut itu nampak begitu indah, ayah yang senantiasa mengabdikan diri padanya, memahami arah terbang anginnya, bagaimana arus lautnya, namun justru itu pula yang menelannya. Melihat cahaya biru yang semakin menariknya mendekat ke bibir pantai, Lea sadar memang semenarik itu isi lautan.

Tanpa sadar ia berjalan hingga menenggelamkan lututnya ke dalam air laut asin. Jika dulu ia

 
 
 
 
 
 

 

 

 

berenang dengan senang hati, maka kini dingin atau hangat lautan tak lagi ia rasakan. Lea tau pernah menikami lautan sedemikian ya. Tetapi kini ia hanya ingin berjalan hingga menenggelamkan semua isi kepalanya.

Ketika itu, tubuh Lea seakan melayang sejatinya memang tubuhnya tak lagi bersama tanah. Ia melayang di lautan memasrahkan diri terbawa arus yang entah ke mana. Nafasnya terasa sesak bahkan jantungnya seakan sulit bergerak. Tapi disisi lain dapat ia rasakan kenikmatan dari sakit yang tak bisa ia jelaskan itu. Lea tersenyum. Apa ibu akan memanggil namanya jika kelak ia terbujur biru seperti ayah. Apa ibu akan mengelus rambut dan membacakan dongeng tidur untuknya. Tapi menyadari dirinya sudah berada diusia yang tidak lagi cocok dengan itu, Lea tersenyum.

Dingin lautan mulai terasa, semakin di dingin hingga terasa menusuk tulang-tulangnya. Lea bertanyatanya apakah dingin seperti ini pula yang dirasakan ayah. Lea tidak tau. Jika berada di pelukan ibu saat ini betapa hangatnya itu.

Gelembung udara keluar perlahan hingga semakin banyak darinya, Lea merasakan sesak seolah tubuhnya tertimpa sesuatu yang amat berat. Ketika itu ia saksikan silau cahaya yang entah dari mana. Bagaimana mungkin ada pantulan cahaya yang sedemikian ini di dalam lautan yang sunyi seperti ini. Begitu Lea membuka matanya, menatap pemandangan terbaik dalam hidupnya, perimatanya terasa. Tapi itu sebanding dengan keindahan yang ia saksikan saat ini. Ada yang mengatakan bahwa titik putih pada tubuh hiu paus akan memantulkan cahaya dan ternyata itu benar adanya.

Lea saksikan ikan yang berenang bergerombolan di dalamnya. Dan ombak yang dibawa angin di atasnya. Ayahnya pernah berkata bahwa mesin terbaik adalah alam. Tapi itu tak lagi terlihat saat ini beberapa tahun setelah kepergiannya. Segalanya tergantikan. Perahu layar besar yang tenggelam itu seolah tak lagi di perhatikan.

Lea tersenyum, ingin ia abadikan semua ini dalam ingatannya, semakin jauh ia terbawa arus. Semakin sulit rasanya untuk bernafas, bahkan detak jantungnya terasa tertahan di dalam sana. Setidaknya ia dapat melihat apa yang disaksikan ayahnya sebelum ia merelakan segalanya. Dan keindahan itu memang tak terbayarkan.

Lea berpasrah diri, tubuhnya lemas, tak lagi ia mampu bergerak atau memberontak nafasnya bahkan tak lagi terasa ada di dalam sana. Kesadarannya mulai memudar. Bahkan hiu paus yang menari di hadapannya tak lagi mampu ia lihat dengan jelas, sayang sekali keindahan semacam itu dilewatkannya.

Tubuhnya terasa hangat, tak bisa Lea ketahui dari mana rasa hangat itu berasal. Sekilas rambut hitam berkilau dengan mata biru laut seolah menyatu dengan lautan. Sekilas ingatan itu membuat Lea menangis, sekali lagi ia merasa menjadi anak cengeng yang tak mampu mengontrol emosinya. Lea bingung mau bagaimana lagi. Itu benar benar rasa hangat yang ia rindukan. Pundak lebar tempatnya berbaring tertidur di bacakan dongeng oleh ibu. Tangan lebar yang memangku seluruh bagian kepalanya lalu ditepuk dengan hangat.

“ayah… kebiasaan buruk Lea datang lagi yah…ayah…”

Lea tak sadar kapan ia ucapkan kalimat itu. Tapi entah kenapa begitu melekat dalam

 
 
 
 
 
 

 

 

 

ingatannya. Bagaimana bisa ia berbicara ketika nafasnya saja terasa begitu berat.

cengeng itu bukan kebiasaan buruk, Lea… Menangis itu perlu”

Dalam ingatan kecil itu Lea menangis sejadi jadinya. Ia sadar selama ini telah ia tahan terlalu banyak air di dalam matanya. Jika saja tak ia hempaskan dalam ingatan itu entah apa yang akan terjadi.

Begitu Lea bangkit kembali ia lihat silaunya lautan. Kini matahari sudah berada di ujung barat. Lautan yang tadinya biru jernih seperti matahari, menjadi lautan oranye yang berpusatkan pada matahari. Suara burung beterbangan kembali ke sarangnya masingmasing. Dua pulang yang ada di ujung sana pun masih selayaknya biasa.

Lea menepuk pipinya, ia mengira di surga manakah ia sedang berada, atau Mungin di fatamorgana mana lagi ia terjebak.itu melelahkan. Sentuhan dingin dari lehernya membuat Lea bergidik kedinginan. Begitu ia pegang leher ya, nampaklah kalung dengan liontin kecil yang bergelantungan di sana. Jika di lihat sekilas terdapat permata biru laut pada mata liontin hiu paus itu. Darimana Lea mendapatkannya?. Bagaimana bisa ia Lula tentang hari ini, masih ia ingat di hari ulang tahunnya yang ke tujuh ketika permata biru laut menjadi kesayangannya.

Permata yang menghilang begitu ayah Lea ikut tiada. Apakah lautan Yang mengembalikannya?, Lea tidak tau itu tapi yang pasti ia mengenakan apa yang telah benar benar ia rindukan.

lea… Wanita dirumah itu selalu jatuh cinta padaku begitu kembali, jantungnya akan berdetak tak karuan hanya dengan tatapanku, bagaimana bisa dia terlihat begitu manis, dan dia tidak suka buncis”

Lea tersenyum, betapa bahagianya mereka berdua di kehidupan ini, tuhan memang mengakhirinya sedikit lebih cepat, tapi bahkan dengan akhir yang secepat itu tak mengurangi keharmonisan keduanya.

Lea merasa ada tugas yang harus ia kerjakan begitu kembali. Jika ada yang yang bertanya apakah obat dari sebuah kehilangan, maka tak ada jawaban yang bisa diberikan darinya. Tapi bersama dengan hati bukanlah pilihan yang buruk.

Begitu berdiri didepan pintu, sedikit Lea tersenyum lagi. Betapa manisnya ibu, dan ayah yang yang terjebak dalam sikap manisnya. Dan betapa kehilangannya ibu yang kehilangan pria menawan seperti ayah.

Lea membuka pintu ia lihat ibunya tengah duduk di meja membaca majalah seperti biasanya. Lea merasa kembali menjadi gadis kecil yang masih ingin di usap dan dibacakan dongeng. Tapi melihat tingginya yang sepantaran dengan ibu membuat Lea berpikir kembali.

“ibu… Ayo makan malam seperti biasa!”

Demikianlah bagaimana hari selanjutnya berjalan. Obrolan dimeja makan dapat di dengarkan kembali, canda tawa di ruang tamu berirama kembali. Terkadang kehilangan merubah dunia menjadi begitu dingin tapi komunikasi akan mencairkannya hingga tak akan tersisa sebongkah es pun didalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *